Senin, 17 Juni 2013

. Macam-macam Kitab Hadist


A.  Macam-macam Kitab Hadist

a.     Kelompok Jami’
Sesuai dengan namanya kitab jami’ berisikan hadis tentang tema-tema pokok keagamaan. Paling tidak mencakup delapan bab utama mengenai akidah, hukum perilaku para tokoh agama, adab, tafsir, fitan, tanda-tanda kiamat dan manaqib.
 Penelusuran hadis melalui kitab-kitab jami’ relatif mudah, oleh karena sistematika isinya yang konkrit. Semua hadis yang berkaitan dengan soal-soal tertentu dimasukkan dalam satu tema. Tema tersebut biasanya dinamakan sebagai nama atau judul kitab.



b.     Kelompok Sunan
Kitab sunan adalah kitab-kitab yang menghimpun hadis-hadis hukum yang marfu’ dan disusun berdasarkan bab-bab fiqh.Kitab-kitab yang termasuk kelompok ini juga sangat mudah ditelaah karena bentuknya yang sistematis. Banyak komentator yang menganggap kitab-kitab jenis ini sebagai kompilasi hukum, karena mengutip hadis-hadis yang tersusun dalam tema-tema hukum itu. Yang termasuk jenis kitab ini diantaranya:
Sunan Abu Dawud                Sunan al-Darimi
Sunan Al-Tirmidzi                 Sunan al-Saghir al-Baihaqi
Sunan An-Nasa’i                   Sunan Ibnu Majah

c.      Kelompok Musannafat
Kitab Musannaf adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fiqh akan tetapi mencakup hadis mauquf, maqtu’, yang disatukan dengan hadis-hadis marfu’. Kitab jenis ini tidak terlalu dikenal di kalangan masyarakat Islam dan jumlahnya pun relatif sedikit. Kitab-kitab tersebut pada umumnya ditulis pada masa-masa awal kodifikasi hadis, seperti Musannaf Abd al-Razzaq Ibn Hamam al-San’ani (w.211 H), dan Musannaf Abu Bakr Ibn Abi Syaibah (w.235 H). Meskipun jumlahnya sedikit, namun tetap layak diperbincangkan dalam kapasitasnya sebagai khazanah intelektual umat islam.

d.     Kelompok Mustadrak
Kitab Mustadrak adalah kitab hadis yang disusun untuk mengakomodir hadis-hadis tertentu yang tidak dimuat dalam kitab-kitab hadis sebelumnya, atau diabaikan karena dianggap rendah kualitasnya. Selanjutnya oleh penulis dicarikan jajaran sanad lainnya sehingga hadis-hadis tersebut dapat disandingkan dengan hadis-hadis sahih yang telah ada.
Salah satu kitab Mustadrak yang terkenal adalah Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain karya al-Hakim. Kitab ini menyaring hadis-hadis tetentu yang tidak dimuat dalam dua kitab shahih (Bukhari-Muslim), kemudian meneliti sanad-danadnya dari jalur lain.

e.      Kelompok Mustakhrajat
Yang termasuk kelompok ini adalah kitab-kitab yang mengambil hadis dari salah satu kitab yang telah ada lalu dikaji sanadnya secara tersendiri selain sanad-sanad yang terdapat dalam kitab terdahulu. Biasanya kitab Mustakhrajat disusun untuk melihat sejauh mana kualitas hadis yang terdapat dalam kitab-kitab tertentu. Selanjutnya oleh pengarang dicarikan jajaran sanadnya dengan menggnakan metode takhrij sehingga melahirkan karya tersendiri yang tidak kalah keorisinilnya
Diantara kitab Mustakhrajat yang terkenal adalah Mustakhrajat Abi Nu’aim al-Asbahani, yang mentakhrij hadis-hadis yang terdapat dalam jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Kitab Mustakhraj Ahmad Ibn Hamdan al-Naisaburi, yang mengkaji hadis-hadis dalam al-jami’ al-Shahih karya Imam Muslim.

B . Kitab-kitab Hadis yang Disusun Berdasarkan Nama Sahabat
Kitab-kitab hadis yang ditulis berdasarkan nama sahabat mempunyai arti penting dalam pengkajian hadis. Teknis penulisan seperti ini akan sangat membantu dalam mengetahui jumlah dan jenis hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat serta mempermudah pengecekkanya.

a)     Musnad
adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan nama sahabat yang lebih dulu masuk islam, atau dapat juga dengan mempertimbangkan keluhuran nasabnya. Diantara kitab musnad yang paling terkenal adalah Musnad Ahmad Ibn Hanbal, buah karya seorang ahli hadis dan fiqh kenamaan abad ke dua hiriyah dan pendiri mahdzab Hanbali.

b)    Atraf
Hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab atraf tidak ditulis secara lengkap. Sesuai dengan namanya atraf (bagian, potongan), maka di dalamnya hanya terdapat potongan-potongan hadis tertentu yang biasanya disusun secara alfabetis. Kegunaanya untuk mempermudah dalam mengetahui sanad-sanad hadis oleh karena sanad-sanad tersebut terkumpul pada satu tempat. Diantara kitab Atraf yang terkenal adalah Tuhfat al Asyraf  bi Ma’rifah al-Atraf  karya Abu al-Hajjaj Yusuf  ibn Abdurrahman al-Mizzi (w.742 H).

c)     Kitab-kitab Mu’jam
Kitab Mu’jam dalam teminologi muhadissin adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan guru-guru penulisnya, atau berdasarkan nama daerah asal para guru tersebut. Diantara kegunaan kitab ini yang terpenting adalah untuk mengecek seberapa banyak hadis yang diterima periwayat dari guru-guru tetentu. Dengan kitab ini juga dapat diketahui sejauh mana validitas hadis-hadis yang diriwayatkan dari mereka. Imam Tabrani merupakan seorang tokoh ternama yang telah melahirkan sejumlah karya kitab mu’jam. Tiga kitabnya yang terkenal ialah al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jan al-Awsat, al-Mu’jam al-Saghir
.
C.     Kitab-kitab Hadis yang Disusun Berdasarkan Urutan Awal Hadis
Kitab-kitab yang mengikuti metode penyusunan berdasarkan urutan awal hadis biasanya disusun secara alfabetis atau berdasarkan huruf hijaiyah. Metode seperti ini tentu saja sangat mengutamakan matan (redaksi) hadis semata dan mengabaikan banyak aspek, seperti periwayatan sanad, periwayat dan lain-lain. Seperti kitab Jami’ al Saghir dan Jami’ al Kabir karya Jalaluddin ash-Suyuthi
Ø Kitab-kitab Himpunan Hadis
Adalah sejumlah kitab hadis yang menghimpun hadis-hadis dari berbagai sumber primernya. Hadis-hadis yang terdapat dalam bermacam-macam sumber itu disusun secara sistematis dan dipadukan antara satu sama lain. Diantaranya Jami’ al-Usul min Ahadis al-Rasul karya Ibn al-Asir Muhammad al-Jazari (w.606 H), Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al karya Alauddin al-Muttaqi ibn Hisyam al-Hindi (w.975 H).
Pada masa ini lahirlah kitab-kitab hadits yang dikemukakan diakui sebagai kitab hadits yang mu’tamat oleh umat Islam seperti;
1.      Al Jami’us Shahih oleh Al- Bukhari (194-256)
2.      Al Jami’us Shahih oleh Imam Muslim (204-261)
Kedua kitab hadits ini sering dikenal dengan “Ash Shahiahaini”
3.      As Sunan oleh Abu Daud (202-276 H)
4.      As Sunan oleh Tirmidzi (209-269 H)
5.      As Sunan oleh An Nasa’I (215-303 H)
6.      As Sunan oleh Ibnu Majah (209-276 H).
Kitab-kitab Sunan yang empat ini  dikenal dengan sebutan “Kutubul Arba’ah”
Sedang enam kitab ini semuanya dikenal dengan “Kutubul Sittah”.


E . Kutub As-sittah (Kitab Hadits yang Enam)
1.      Kitab Shohih Bukhari
Abu Abdillahh Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh bin Bardizbah, adalah ulama hadits yang sangat masyhur, kelahiran Bukhara. Suatu kota di Uzbekistan, wilayah Unisoviet. Beliau terkenal dengan Bukhary. Beliau telah memperoleh hadits dari beberapa Hafidh, antara lain Maky bin Ibrahim, ‘Abdullah bin Musa Al-‘Abbasy, Abu ‘Ashim As-Syaibany dan Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshary.
Karya beliau yang terkenal adalah Jami’us-Shahih Bukhary. Yakni kumpulan hadits-hadits shahih yang beliau persiapkan selama 16 tahun lamanya. Beliau sangat berhati-hati menuliskan tiap hadits pada kitab ini, ternyata setiap hendak mencantumkan dalam kitabnya, beliau lebih dulu mandi dan bersholat Istikharah, minta petunjuk baik kepada Allah, tentang hadits yang akan ditulisnya.
Kitab tersebut berisikan hadits-hadits shahih semuanya, berdasarkan pengakuan beliau sendiri, ujarnya; “Saya tidak memasukkan hadits dalam kitabku kecuali shohih semuanya”.
Jumlah hadits yang dituliskan dalam kitab jami’nya sebanyak 6.397 buah, dengan terulang-ulang, belum dihitung yang mu’allaq dan mutabi’, yang mu’allaq berjumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 384 buah, jadi seluruhnya berjumlah 8.122 buah, diluar yang maqtu’ dan mauquf.[1]
2.      Kitab Shohih Muslim
Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.
Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim,
[1] Drs.Fatchur Rahman Ikhtisar Mushthalahul Hadits,hal.375-378.
 berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.
Kitab shohih ini berisikan sebanyak 7.273 buah hadits, termasuk dengan yang terulang. Kalau dikurangi dengan hadits yang terulang , tinggal 4.000 buah hadits.[2]
3.      Kitab sunan An Nasa’i
Nasa’i begitulah ia dikenal, lahir pada tahun 215 H, nama lengkapnya Abu ‘Abd Al-Rahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sina bin Bahr Al-Khurasani Al-Nasa’i. karyanya yang paling masyhur adalah al-Sunan al-Mujtaba yang ternyata merupakan seleksi dari al-Sunan al-Kubra.[3] dengan beberapa perubahan. Imam Nasa’i berkomentar tentang kitab ini dengan mengatakan “Kitab Sunan seluruhnya shahih dan sebagiannya ma’lul dan yang kami namakan al Mujtaba, semua hadisnya shahih”.
            Kitab Mujtab ini adalah merupakan kitab yang paling sedikit hadis-hadis dla’ifnya demikian pula perawi yang dicacat oleh ulama lain. Derajatnya lebih tinggi dari sunan Abu Dawud, sunan At Turmudzi, bahkan ada yang mengatakan rijalul hadits yang dipakai lebih tinggi nilainya daripada yang dipakai Imam Muslim.
4.      Kitab Sunan Abu Dawud
Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sijistani adalah salah seorang murid al Bukhari. Abu Dawud lahir pada tahun 202 H, ia menyusun al Sunan-nya saat tinggal di Tarsus selama dua puluh tahun. Ia memilih sekitar empat ribu delapan ratus dari 500.000 hadis untuk menulis kitabnya ini. Ia puas dengan hanya menulis satu atau dua hadis dalam tiap bab.Beliau mengaku telah mendengar hadits dari Rasulullah Saw sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu beliau seleksi dan ditulis dalam kitab sunannya sebanyak 4.800 buah. Beliau berkata: “Saya tidak meletakkan sebuah hadits yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkannya. Saya jelaskan dalam kitab tersebut nilainya.
[2] Drs.Fatchur Rahman,op,cit,hal.378-379.
[3] Ibid,hal.384.

 dengan shohih, semi shohih, mendekati shohih, dan jika dalam kitab saya itu terdapat hadits yang wahnun syadidun (sangat lemah) saya akan jelaskan.[4]
5.      Kitab sunan At-Turmudzi.
Abu Isa Muhammad Ibn Isa Surah As Silmy At Turmudzi, ia lahir pada tahun 209H. adalah seorang muhaddits dari kota Turmudz, sebuah kota kecil dipinggir Utara sungai Amuderiya. Sebelah Utara Iran.
            Beliau menyusun satu kitab Sunan dan kitab ‘Ilalu’l-hadits. Kitab sunan ini bagus sekali, banyak faedahnya dan hukum-hukumnya lebih tertib. Beliau memberikan pengkuan bahwa “Barangsiapa yang menyimpan kitab saya ini dirumahnya seolah-olah di rumahnya ada seorang nabi yang selalu bicara”. Dalam akhir kitab beliau menerangkan bahwa semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah ma’mul (bisa diamalkan).


6.      Kitab Sunan Ibn Majah
Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Al rab’i lahir pada tahun 207 H, ia dikenal sebagai Ibn Majah al-Qazwani. Kitab karangannya yang masyhur bernama al-Sunan (Sunan Ibnu Majah). Dalam Sunan ini banyak terdapat hadits dha’if, bahkan tidak sedikit hadits yaang berpredikat munkar. [5]Dalam periode belakangan, kitabnya (al-Sunan) menjadi salah satu dari enam kitab masyhur yang disebut Kitab Pokok Yang Enam (al- Ushul al-Sittah)
2. Ciri utama Sunan Ibn Majah
Kitab ini menyajikan sedikit sekali pengulangan, dan merupakan salah satu yang terbaik dalam pengaturan bab dan sub bab, suatu kenyataan yang diakui oleh banyak ulama. Kitab ini dibagi menurut edisi M. Fuad Abd al Baqi dalam 37 bab (kitab), dan berisi 4341 hadis.


 [4] Ibid,hal.381.
[5] Ibid,hal.384-385.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada masa abad ke III H, lahirlah kitab-kitab hadits yang dikemukakan diakui sebagai kitab hadits yang mu’tamat oleh umat Islam seperti;
1.      Al Jami’us Shahih oleh Al- Bukhari (194-256)
2.      Al Jami’us Shahih oleh Imam Muslim (204-261)
3.      As Sunan oleh Abu Daud (202-276 H)
4.      As Sunan oleh Tirmidzi (209-269 H)
5.      As Sunan oleh An Nasa’I (215-303 H)
6.      As Sunan oleh Ibnu Majah (209-276 H).
Demikianlah beberapa masterpiece (karya besar) paara ulama hadist pada abad ke III H.Yang sampai kini masih menjadi hujjah atau panduan ummat islam di seluruh dunia.








Tidak ada komentar: