Senin, 17 Juni 2013

Unsur-Unsur Dakwah (Media, Metode dan Efek)


Unsur-Unsur Dakwah (Media, Metode dan Efek)
Disampaikan dan Didiskusikan di Kelas pada Waktu Mata Kuliah Ilmu Dakwah  
                                                                                                 


      Disusun Oleh :
Novar Mandaharin  
201131110018





Dosen Pengampuh : Ust.Mashud S.Sos.I M.Si

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
Jurusan Dakwah










SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM LUQMAN AL HAKIM SURABAYA
Jln. Kejawan Putih Laguna VI / I Mulyorejo Telp. (031) 5992062
http://www.stail.ac.id   E-mail : stail_031@yahoo.com

BAB I
PEMBAHASAN
A. Media Dakwah
Media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti perantara, tengah atau pengantar (Arsyad, 2006: 3). Dalam bahasa Inggris media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti tengah, antara. Dari pengertian tersebut para ahli komunikasi mengartikan media sebagai alat yang menghubungkan pesan komunikasi yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Dalam bahasa Arab media sama dengan wasilah, atau dalam bentuk jamak, wasail yang berarti alat atau perantara. (Aziz Ali, Moh. Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana, 2009)

Dakwah memang tidak cukup bilah di sampaikan dengan lisan saja. Ia harus harus didukung dengan keberadaan media, yang menjadi saluran penghubung antara ide dengan umat, yang menjadi elemen vital serta urat nadi dalam totalitas dakwah itu sendiri. Media yang dimaksud bisa berupa perangkat alat moderen, yang sering kita sebut dengan alat komunikasi masa. Karena setiap kata yang terucap dari manusia gaungnya hanya dapat menjangkau jarak yang alat-alat komunikasi masa, maka jangkauan dakwah pun tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu.[1]
Adapun media dakwah yang dapat dimanfaatkan antara lain:
1)      Lisan
Da’wah bil lisan yaitu penyampaian impormasi atas pesan dakwah melalui lisan.Termasuk dalam bentuk ini adalah ceramah, khutbah, tausyiah, pengajian, pendidikan agama, kuliah, diskusi, seminar, nasihat, dan lain sejenisnya.
2)      Tulisan
Da’wah bil qalam yaitu penyampaian materi dakwah dengan menggunakan media tulisan. Termasuk dalam bentuk ini adalah, buku-buku, majalah, surat kabar, risalah, buletin, brosur, dan lain sejenisnya. Dalam memanfaatkan media ini, hendaknya ia ditampilkan dengan gaya bahasa yang lancar, muda di cerna, dan menarik minat publik, baik mereka yang awam maupun kalangan pelajar.
3)   Audio visual
Da’wah dengan media audio visual merupakan suatu cara penyampaian yang merangsang penglihatan serta pendengaran audiense. Yang termask dalam jenis ini adalah televisi, film, sinetron, sandiwara, drama, teater, dan lain sebaginya. Terkadang pesan yang di sampaikan melaluai media ini, cendrung lebih muda di terima audience, bahkan dapat membentuk karakter mereka. Materi da’wah yang dkemas dalam bentuk hiburan akan cenderung disukai dari pada da’wah yang disamapaikan melaui ceramah keagmaan yang kaku, apalagi membosankan.
4)      Lingkungan keluarga
Suasana lingkungan keluargapun mempunyai konstribusi yang cukup kuat dalam kelancaran da’wah. Apabilah ikatan keluarga itu senantiasa bernapaskan Islami, maka aqidah dan amalianya pun semakin kuat. Dengan demikian, da’wah dalam keluarga akan selalu berjalan dengan baik, bahkan dia dapat mempengaruhi cara berpikir keluarga lain.
5)      Uswah dan Qudwah hasanah
Yaitu suatu cara penyampaian dakwah yang dilakukan dalam bentuk perbuatan nyata. Ia tidak bayak berbicara, namun langsung memperaktikkannya. Ia tidak menganjurkan, tetapi langsung memberi contoh kepada mad’u-nya. Termasuk dalam bentuk ini adalah seorang yang membesuk saudaran atau tetangganya yang sakit, bergaul dengan masyarakat dengan menunjukan budi pekerti, menyediakan diri untuk membentuk orang-orang yang berada dalam kesusahan, selalu menjalin dan menjaga tali silaturahmi, turut serta dalam pembangunan masjid, pondok pesantren, madrasah, unit kesehatan, dan lain sebaginya.[2]
6)        Organisasi Islam
Berbicara tentang organisasi Islam, tentunya perhatian kita akan tertuju pada sekumpulan umat yang terorganisir, yang bergerak dalam bidang keagamaan, khususnya disini dalam agama Islam. Ia akan memperhatikan pentingnya jalinan ukhuwah Islamiah. Menjembatangi antara umat dengan petunjuk agama, menuntun mereka kepada kebenaran, dan salah satu yang menjadi agenda kerjanya adalah turut serta dalam meyebarkan agama Islami, dengan cara yang ma’rif, efektif, efisien, dan penuh rasa kekeluargaan. Diantara organisasi Islam yang tersebar di tanah air tercinta ini, antara lain, Ikhwanul Muslimin, dan lain sebagainya.
B. Metode Dakwah
            Metode berasal dari bahasa yunani methodos, yang merupakan gabungan dari kata meta dan hodos. Meta berarti melalui, mengikuti, atau sesudah, sedangkan hodos berarti jalan, arah atau cara atau jalan yang bisa ditempuh. Cukup banyak metode yang telah diperaktikkan oleh para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Seperti, ceramah-ceramah, tausiyah, nasehat, diskusi, bimbingan keagamaa, dan lain sebagainya. Semua itu bisa di terapakan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Tapi yang harus digaris bawahi adalah bahwah metode bukanlah satu-satunya kunci kesuksesan. Suatu dakwah dapat berhasil, apabila ditunjang dengan seperangkat syarat, baik itu dari pribadi juru dakwah itu sendiri, metode yang di sampaikan, kondisi objek yang sedang didakwahi, atau pun elemen-elemen lainnya.
            Adapun metode yang akurat untuk diterapkan dalam berdakwah, telah tertuang dalam Al-Quran surat An-Nahal ayat 125, yang artinya:
"Serulah ( manusia ) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih  mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
Dari redaksi ayat di atas ada 5 macam metode berdakwah yang kita dapat ambil.
1. Dakwah bil Hikmah
Hikmah adalah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Kata hikmah di sini mengandung 3 unsur pokok yaitu:
a.    Unsur Ilmu, yaitu ilmu yang shalih yang dapat memisakan antara yang hak dan yang batil.
b.   Unsur jiwa, yaitu menyatukan ilmu tersebut ke dalam jiwa sang ahli hikmah, sehingga mendarah danginglah ia dengan sendirinya.
c.    Unsur amal perbuatan, yaitu ilmu pengetahuan yang menyatu ke dalam jiwanya itu mampu memotivasi dirinya untuk berbuat kebaikan.
2. Dakwah bil Mau’izhatil Hasanah
Mau’izhatil Hasanah adalah kalimat atau ucapan yang diucapkan oleh seorang da’i atau muballigh. Disampaikan dengan cara yang baik, berisikan petunjuk-petunjuk kearah kebajikan, diterangkan dengan bahasa yang sederhana, supaya yang disampaikan itu dapat ditangkap, dicerna, dan dihayati.
Tahapan selanjutnya dapat diamalkan. Bahasanya yang lembut begitu enek didengar, berkenaan di hati, dan menyentuh sanubari. Serta merasakan kesungguhan sang da’i menyelamatkan mereka dari suatu kemudaratan sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:
“Tidakkah kamu perhatiakn bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya tegu dan cabangnya menjulang ke lagit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap Musim dengan seizing tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. ( QS. Ibrahim (14): 25-25).
3. Dakwah bil Mujahadah
             Dakwah bil Mujahadah metode untuk mengajak manusia kepada jalan Allah SWT. Memang sangat banyak dan beragam, dan yang paling umum digunakan adalah.
a. Komunikasi verbal, komunikasi ini digunakan untuk meyampaikan pesan kepada akal, perasaan dan hati, baik dengan ungkapan maupun dengan tulisan.
b. Diskusi dan perdebatan, secara umum metode dakwah yang satu ini di tujukan bagi orang-orang yang taraf berpikirnya telah maju dan kritis seperti halnya  Ahlul kitab,  yang  memang telah memiliki bekal keagamaan dari para utusan Allah SWT sebelumnya. Karena itulah Al-Quran memberi memberikan perhatian khusus kepada Ahlul kitab. Dan perdebatan itu dilakukan dengan cara yang baik . hal ini tertuang dalam Al-quran. (QS. Al-Ankabut ayat 46) yang artinya:
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka [1154], dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri".[1154]
                 Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan.
c. Berdakwah dengan metode Bil mujahada seorang da’i harus memperhatikan beberapa hal:
1. Hendaklah dalam berdiskusi, seorang da’i tidak merendakan pihak lawan atau menjelek-jelekkan mereka, karena pada dasarnya, tujuan diskusi bukanlah untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, melaikan untuk memudahkan supaya bisa sampai kepada kebenaran.
2. Diskusi tersebut bertujuan untuk menunjukan kebenaran sesuai dengan ajaran Allah SWT, dan hindarilah segala sesuatau yang dapat mennyinggung perasaan mad’u.
3. Dalam diskusi seorang da’i harus tetap menghormati pihak lawan, sebab jiwa manusia itu tetap memiliki harga diri, dan tidak akan rela jika harga dirinya diinjak-injak. Karenanya harus diupayakan supaya mereka tidak merasa kalah dalam diskusi tersebut dan merasa tetap dihargai serta dihormati. Upayakan pula agar diskusi tersebut tidak berubah menjadi pertengkaran, adapun yang harus dijadikan acuan untuk mengetahui bahwa suatu diskusi tersebut telah jadi ajang perdebatan atau pertengkaran adalah sebagai berikut.
a. Mencelah pembicaraan orang lain dari segi bahasanya, dengan menunjukkan cacat pada aspek tata bahasa, kosa kata, susunan kata, dan urutan kata,
b. Mencelah pembicaraan orang lain dari segi makna, misalnya seseorang mengatakan, ‘pembicaraan itu tidaklah seperti yang anda kemukakan. Pembicaraan anda salah dalam anu dan anu’
c. Mencelah pembicaraan orang lain pada aspek tujuan. Misalnya, seorang mengatakan kepada lawan bicaranya, perkataan anda ini benar namun tujuannya salah, padahal yang memiliki tujuan pembicaraan itu, dan bentuk-bentuk lain yang senada.
4. Dakwah bil hal
            Dawah bil hal adalah dakwah yang diberikan oleh seorang melalui amal perbuatan yang nyata. Dapat kita ambil contohnya yang dilakukan Rasulullah, ketika untuk yang pertama kalinya beliau beserta sahabat muhajirin tiba di Madinah, bahwasanya yang pertama kali dilakukan Rasulullah adalah membangun Masjid Nabawi, bahkan beliau terjun langsung dalam pembagunan masjid itu, memindahkan bata, dan bebatuan seraya berdo’a “ ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebi baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah dosa orang-orang Anshar dan Muhajirin. Beliau bersabda: para pekerja ini bukanlah para pekerja khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan paling suci. 
5. Dakwah bil Qalb
            Sesunggunya, dakwah itu tidak cukup dengan melakukan metode sebagaimana yang telah di uraikan di atas, Yaitu dakwah bil hikmah, bil mau’izhatul, bil mujadalah, bil hal,ataupun dakwah bilmah. Akan tetapi, ada pula yang dinamakan dakwah bil qolb (dakwah dengan hati) dan yang terahir disebut inilah yang sebenarnya memegang kunci keberhasilan.
            Semua metode di atas pada prinsipnya sangat komplementer, Saling melengkapi. Dakwah dengan mendekatkan hati ini sangat diperlukan, mengingat banyak para da’i yang berdakwah dengan lebih mengedepankan nalar/logika saja. Padahal orang yang berdakwah dengan pikiran, kecenderungannya akan lari dari filsafat. Dan kalau sudah bicara tentang filsafat, maka tidak ada ujungnya.
            Mungkin kita terheran-heran ketika melihat seseorang yang mampu memberikan ceramah atau tausyiah sedemikian mengagumkan, namun bila hal itu kita cermati, sesungguhnya mereka dapat menyampaikan suatu ceramah ataupun tausiyah secara mengagumkan adalah karena ia diawali dari hati, diucapkan dengan niat yang baik dan tulus, disinilah letak dakwah yang sebenarnya, yaitu hati.
            Oleh karena itu, sebelum seseorang berdakwah dengan orang lain, seyokyanya ia menata diri atau berdakwah kepada dirinya terlebih dahulu. Jangan sampai menyeruh kepada orang lain untuk berbuat kebajikan, namun dirinya sendiri justru terlupakan. Artinya, perioritas yang utama adalah memang untuk melakukan pembenahan terhadap diri sendiri khususnya, segala sesuatu yang menyangkut masalah hati.[3]


C. ATSAR (Efek Dakwah)
            Efek adalah suatu pengaruh atau tindakan dan sikap setelah mitra dakwah menerima pesan tersebut. Dalam hal ini, efek dapat di bagi menjadi tiga[4]:
1.      Efek Kogntif
Setelah menerima pesan dakwah, mitra dakwah akan menyerap isi dakwah tersebut melalui proses berpikir. Efek kognitif ini bisa terjadi apabila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, dan dimengeti oleh mitra dakwah tentang isi pesan yang diterimanya.
2.      Efek Afektif
Efek ini merupakan pengaruh dakwah berupa perubahan sikap mitra dakwah setelah menerima pesan dakwah. Pada tahap atau aspek ini pula penerima dakwah dan pengertian dan pemekirannya terhadap pesan dakwah yang telah diterimanyaakan membuat keputusan untuk menerima atau menolak pesan dakwah yang telah tersampaikan.
3.      Efek Behavioral
Efek ini merupakan suatu bentuk efek dakwah yang berkenaan dengan polah tingkah laku mitra dakwah dalam merealisasikan pesan dakwah yang telah diterima dalam kehidupan sehari-hari.Efek ini muncul setelah melalui proses kognitif, dan afektif. Dan dapat diambil pemahaman bahwa seseorang akan bertindak dan bertingkah laku setelah orang itu mengerti dan memahami apa yang telah diketauinya itu, kemudian masuk ke dalam perasaannya, kemudian timbullah keinginan untuk bertindak dan bertingkah laku.
            Jika dakwah telah menyentuh aspek behavioral, yaitu telah dapat mendorong manusia melakukan secara nyata ajaran-ajaran Islam sesuai pesan dakwah, maka dakwah dapat dikatakan berjalan dengan baik, dan inilah merupakan tujuan final dari dakwah itu.

















BAB II
. Kesimpulan
          Media, metode dan efek dakwah merupakan unsur-unsur yang terdapat di dalam ilmu dakwah. Secara umum, ilmu dakwah  sewajibnya dapat dipelajari oleh para da’i yaitu orang yang menyampaikan dakwah atau pesan dakwah, agar dakwahnya dapat diterima dengan baik oleh mitra dakwah tentunya. Dan para pendakwah harus mempunyai strategi dan metode dalam penyampaian dakwahnya sehingga dakwahnya dapat berjaln sesuai yang telah diharapkan.













Daftar pustaka

Aziz Ali Moh. Ilmu Dakwah, Jakarta: Kencana, 2009
Ali Aziz, Mohammad, M. Ag,  Ilmu Dakwah. Jakarta: 2010
Enjeng & Aliyudin. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009
Syukir, Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah. Surabaya: 2007
Harjan, Hefni, Pengatar sejarah Dakwah, Jakarta: 2007








[1] Ali Aziz, Mohammad, M. Ag,  Ilmu Dakwah, hal: 131
[2] Syukir, Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah, hal: 224
[3] Harjan, Hefni, Pengatar sejarah Dakwah, hal: 332
[4] Aziz Ali Moh. Ilmu Dakwah, Jakarta: Kencana, 2009 hal. 456

Tidak ada komentar: